Beberapahari yang lalu saya berkumpul di
rumah om dan tante. Mereka menceritakan sebuah kejadian di sebuah toko. Karena
menurutku ini bisa menjadi kisah yang Inspiratif, saya ingin berbagi. So…
cekidottt J
Kakek Kumuh
Suatu pagi di sebuah toko meubel, Para karyawan penjaga toko terlihat sibuk
meladeni beberapa pegawai berseragam dinas lengkap dengan atributnya. Si
penjaga toko tak henti – hentinya bertanya kepada para pegawai tersebut dengan
kata – kata ramah ciri khas para penjual jasa dan barang kebanyakan. Ramah
tetapi menyimpan maksud. Ia meladeni mereka dengan penuh penghormatan. “cari
apa pak ? Silahkan lihat – lihat !” para pegawai tersebut tidak menggubris
pertanyaan atau lebih tepatnya sapaan
penjaga toko. Mereka hanya diam tanpa sepatah kata pun dengan mata yang terus
menjelajah sampai ke sudut – sudut toko.
Beberapa saat kemudian seorang kakek memasuki
toko meubel tersebut. Ia berjalan setengah bongkok dengan pakaian dan
penampilan sedehana, kemeja lusuh tahun 40-an, sarung dengan benang – benangnya
yang terurai menjuntai di ujung sarung hampir menyentuh tanah, dan sandal
jepit dengan sedikit lumpur kering menempel di jari – jari kakinya yang
keriput. Ia memasuki toko tersebut sambil menenteng sebuah kantong kresek. Ia menghampiri salah satu penjaga toko
dan bertanya “ Diang di padada ayu anak ?” ( arti : apakah disini ada cat
kayu?) kata kakek tersebut dengan dialek halus khas mandar yang bermukim di
pegunungan. “anu inna bassa puang ?” penjaga toko menjawab. Lalu kakek tersebut memicingkan matanya yang tampak sudah
rabun mencari – cari benda yang ia
maksud.
Lalu kemudian tangannya yang renta mulai
menunjuk kearah lemari rak kayu yang berisi cat kayu. Lemari tersebut tampak
berbeda dengan lemari rak lainnya.
